Kami tidak habis pikir. Kamus Besar Bahasa Indonesia yang tebalnya melebihi Al Quran tidak memuat satu kata yang terkenal di lagu Tompi dan puisi Pak Taufik Ismail. Kata apa itu? Lalu seoarang mahasiswa menjawab, “Hujam”. Lalu, kami memutuskan untuk menggunakan fasilitas canggih yang didewa-dewakan di Indonesia. Fasilitas apa itu? Lalu, gadis berkerudung merah jambu dari antah berantah menjawab, “Internet”. Kami melakukan pencarian di google dengan kata kunci ‘KBBI Online’. Akhirnya, kami temukan situs <a href="http://pusatbahasa.diknas.go.id/ Ternyata, di Kamus Besar Bahasa Indonesia Online juga tidak terdapat kata hujam. Apa yang terjadi di negara kita? Kata hujam yang terkenal itu tidak terliput di dalam kamus sakti para linguis (ahli bahasa). Parahnya, ketika kami ingin memberikan saran kepada pusat bahasa, kami tidak menemukan alamat pengaduan yang seharusnya dicantumkan di situs pusat bahasa. Jadi, bagaimana menurut pembaca?

Leave a Comment

Pengantar Redaktur (Bubuhan Nang Baisi Blog Ngini)

Alhamdulillah. Dengan rahmat Allah swt, akhirnya blog ini bisa selesai dibangun dengan sederhana.

Terima kasih kami ucapkan untuk dosen kami tercinta, Bapak Sainul Hermawan, yang telah memberikan kepercayaan dan kesempatan kepada kami untuk belajar  memperjuangkan pendidikan bahasa Indonesia lewat blog kami yang sederhana ini. Kami merasa sangat beruntung mengikuti perkuliahan Telaah Kurikulum dan Buku Teks yang diasuh oleh Beliau.

Kami menyadari bahwa blog ini masih jauh dari layak untuk dijadikan wahana pemerolehan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, saran dan kritik dari para pembaca akan kami terima dengan senang hati. Dengan itu semua, pondok kami yang sederhana ini bisa senantiasa direnovasi menjadi lebih asri dari waktu ke waktu.

Semoga apa yang kami goreskan di dinding-dinding pondok ini bisa bermanfaat bagi kita semua. Amin.

Banjarmasin, Maret 2009

Anhariansyah (A1B107052)

Adianor. H. A (A1B107043)

Arif  Baitika Rahman (A1B107027)

Gesit Aprianto (A1B107014)

Ichwan Al-Safa (A1B107022)

Juhrani (A1B107047)

Muhammad Rizal (A1B107021)

Muhamad Sopian (A1B107025)

M. Syarif Syawwali (A1B107028)

Sufian Akbar (A1B107060)

Taufik Akbar (A1B107009)

Zulfan Fauzi (A1B107034)

*Para pengelola pondok adalah para mahasiswa FKIP Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah*

Leave a Comment

Sebait Surat untuk Kak Abay

Sebait Surat untuk Kak Abay

Assalamu’alaikum

Catatan pagi  telah digores angin laut yang menghambur bau senyum

Semoga tak tercampur aroma air mata dari satu sudut kota ini

Karena aku terlalu pusing

Menghisap bau duka dari Jakarta dan anak-anaknya di sekitar Samudera Hindia

Dengan ini, kuajak kau tersenyum

Lalu bertekad

Menabur cahaya di hati busuk para penista

Wassalam

Banjarmasin, awal April 2009

Gesit  Aprianto

Leave a Comment

Seragam Penuh Noda

Seragam putih abu-abu
Kau mengingatkanku akan catatan malaikat Atid
Bersamamu kulewati kenikmatan fatamorgana
Ingin rasanya kubakar dirimu

Aku tak bisa melupakan perjalanan tangan setan itu
Menjelajah gunung agung
Hingga magnet yang menarik kaum Adam

Ditemani meja dan kursi
Kuserahkan isi dalam kain abu-abu itu

-Ijonk-

Leave a Comment

Wisata Kuliner With Cengoy & Cefi (Part 1)

Assalamu’alaikum wr.wb.

Kita mulai dari mana, yah? Bagaimana jika kita mulai dari cuaca panas dulu?

Begini, Sobat. Kami berdua ini ingin memberi tahu tempat nongkrong/nangkring yang manteb sudarsono, alias gue banget (dikutip dari ARI).

Begini ceritanya.

Waktu itu, kami bermain voli yang tidak  jelas permainannya. Terutama, manager tim voli kami yang asyik berpacaran dengan adik angkatan (mungkin kehabisan stok). Tahu, kan, siapa menejernya?

Ketika itu, setelah memberikan pelatihan pada teman-teman yang permainannya di bawah standart (menurut Cengoy, ngeri kada? (Bahasa Banjar. Baca ‘ngeri, ngga’?)), kami berdua kehausan seperti musafir (contoh cerita Gesit waktu di rumah Arif). Ingat aja, kalo (Bahasa Banjar. Artinya: Ingat, kan?). Read the rest of this entry »

Leave a Comment

Cinta Abadi

tersenyumlah saat kau mengingatku..

karena saat itu aku sangat merindukanmu..

dan menangislah saat kau merindukanku..

karena saat itu aku tak berada di sampingmu..

tapi cobalah pejamkan mata indahmu itu..

karena saat itu aku akan terasa ada di dekatmu..

karena aku telah berada di hatimu untuk selamanya..

tak ada yang tersisa lagi untukku..

selain kenangan-kenangan yang indah bersamamu..

mata indah yang dengannya aku bisa melihat keindahan cinta..

mata indah yang duhulu adalah milikku..

kini semuanya terasa jauh meninggalkanku..

kehidupan terasa kosong tanpa keindahanmu..

hati, cinta, dan rinduku adalah milikmu..

cintamu takkan pernah membebaskanku..

bagaimana mungkin aku terbang mencari cinta yang lain..

saat sayap-sayapku telah patah karenamu..

cintamu akan tetap tinggal bersamaku..

hingga hayatku dan setelah kematian..

hingga tangan tuhan menyatukan kita lagi..

-pria berPUPUR-

Leave a Comment

Paket Hidup

Paket Hidup

Beberapa bulan terakhir ini banyak kesibukan, entah itu kesibukan yang dibuat sendiri atau kesibukan yang dilimpahkan orang lain kepada saya. Di situ banyak pilihan yang harus saya putuskan, menyenangkan diri sendiri atau menyenangkan orang lain. Kerap kali saya menyenangkan orang lain, tetapi selalu saja batinku menuntut untuk memperlakukan diriku lebih.

Hidup memang merupakan sebuah pilihan, “tentu anda sering mendengar itu, bukan?” Namun, pernahkah anda berada pada pilihan hidup yang sebenarnya?

Jangan terlalu dipikirkan, jangan juga tidak dipikirkan karena ini merupakan masalah pokok di dalam hidup kita. Seringkali saya buat keputusan yang salah (menurut orang lain), tetapi kok saya senang, ya? Mungkin, itu juga yang sering membawa teman-teman ke pilihan yang salah (menurut orang lain).

Huh!  Setelah bergelut di banyak pilihan yang salah, rasanya ada sesuatu yang hilang, apa, ya? Mungkinkah itu Rasa Tanggung jawab? Apa tuh tanggung jawab? Apa itu kata yang benar yang selalu berada pada tempat yang salah dan waktu yang salah? Istilahnya (Right word in wrong tenses). Pernah dengar ngga?  Pastinya nga pernah denger, kan? soalnya, tuh kata-kata aku bikin sendiri.

Ironis memang jika kita selalu memikirkan sisi buruknya saja. Toh, pada kenyataanya, kita masih dapat mencari kenikmatan di atas semua itu.  Yah,  itulah hidup. Sepertinya memang sudah seperti sebuah paket, di mana jika kita mengambil sebuah keputusan, pastinya akan diikuti oleh segala resikonya.  Saran saya, nikmatilah hidup sebatas yang bisa kamu pertanggungjawabkan saja.

-Pria Kamar Sebelah-

Comments (1)

Bulan Merah Jambu

Bulan berselimut

tenang tak terjenguk

terlapis rindu berkecamuk

di balik kerudung merah jambu

-Gesit Aprianto-

Comments (5)

Warna

Kulihat kurasakan, namun tak pernah terpikirkan

perbedaan antara hitam dan putih tak pernah kuhiraukan,

kadang putih yang tercampur hitam kan menampakkan abu-abu,

ke mana kan kuhantarkan warna yang tercampur ini.

-Sufian Akbar -

Comments (1)